Artikel ini diambil dari :
http://www.archdaily.com/74934/paraty-house-marcio-kogan/
Diterjemahkan kembali dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.
Paraty House, Brazil
Ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa wilayah kota kolonial Paraty dan Angra dos Reis (antara Sao Paulo dan Rio de Janeiro) memiliki 365 pulau, satu untuk dikunjungi setiap harinya sepanjang tahun.
Paraty House digambarkan sebagai dua buah kotak beton, saling berhubungan dan menjorok masuk pada sisi pegunungan dari salah satu pulau, dua prisma modern diantara batu-batu kolosal besar di pantai Brasil. Volume dari bentuknya menuju ke arah luar dari gunung, hampir mendekati pantai, dengan kantilever sekitar 8-meter. Rumah dengan kecerdikan strukturnya ini menyeimbangkan diri dengan topografi lahannya, merupakan pintu terbuka yang luas dan ruang hidup dalam alam yang secara praktis belum tersentuh.
Pengunjung datang dengan menggunakan perahu. Entrance ke dalam rumah setelah menginjak pasir adalah melalui sebuah jembatan logam berada di atas kolam berlapis kristal. Jembatan ini mengarah ke tangga yang menghubungkan ke area yang lebih rendah. Bagian ini berisi ruang dapur, tamu dan area servis. Daerah ruang dalam yang terus bersambung ini memiliki rentang 27-meter dan jendela kaca besar untuk pemandangan ke arah laut.

Tangga masuk yang sama menuju ke arah lantai atas yang berisi kamar tidur. Di bagian depan rumah terdapat panel yang terbuat dari kayu putih yang bisa ditarik untuk melindungi kamar tidur dari cahaya matahari. Bagian ruang yang menghadapi ke arah gunung, memiliki teras kecil dengan pencahayaan langsung dari bagian atas yang terbuka dan penggunaan beton expose sebagai dinding pembatasnya memberikan tekstur yang menyolok.



![]() |
| Ground Floor |
![]() |
| First Floor |
![]() |
| Second Floor |
![]() |
| Third Floor |
![]() |
| Front elevation |
![]() |
| Section A |
![]() |
| Section B |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar