REPOST
Source : http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=449932532620&comments
Source : http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=449932532620&comments
== I Want to Love You With Simplified ==by RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF on Monday, October 18, 2010 at 8:58am
"De?...
de?... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di
hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan
tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang
terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh
ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak
pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun
aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak
ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke
kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu
kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir
bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan
apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan
memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.
Alat
shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku.
Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to
Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku
terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku
sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari
ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke
mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa
membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap
di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang
harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena
memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar,
sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?"
tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. Aku menggeleng dengan
mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku..
Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada
tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu
enggan disodorkannya kepadaku. "Selamat ulang tahun ya De?..."
bisiknya lirih.
"Sebenarnya aku mau bangunin kamu
semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya
takut-takut. Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis
merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini?
Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap
lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku
cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata.
Matanya dihujamkan ke lantai. Kubuka secarik kartu kecil putih manis
dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang
abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan
sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba
aku malu, betapa tak bersyukurnya aku. "Jelek ya de?? Maaf ya de?...
aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu
sepenuhnya. Maafin aku ya de?..." desahnya.
Aku tahu dia
harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia
dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya
juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam
tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku?
Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih
aku pertanyakan. "A? lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku
lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan.
Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret
dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih
dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget,"
bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang
sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih
surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede?," senyumku sambil mengelus perutku.
"Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku
mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama
mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku
sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain
mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi
tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana...
mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat
mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama
suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah
pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke,
fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu
dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku
masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa
saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi
puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana... .
Oleh: Ust. Anis matta
***
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti awan yang setia menebar hujan
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti mentari yang setia pada bumi
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti airmata pengungkap hatimu yang selalu sedia dalam tawa dan tangismu.....
Sungguh
indah perilaku seorang mukmin, semuanya baik. Jika mendapat kebaikan
ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa musibah ia tetap
bersabar dan itu juga baik baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin.
La Tahzan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar