Sabtu, 04 Mei 2013

Mom's To Be (1)

Mendengar cerita seorang teman tentang kegelisahannya akan USG pertamanya yang belum kelihatan janinnya mengingatkan saya pada kenangan serupa di bulan Februari tahun 2012 lalu. Dan kisahnya saya tulis dalam blog ini untuk berbagi sekaligus untuk selalu mengingatkan diri sendiri bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, kita hanya perlu ikhlas menerimanya dan percaya bahwa Allah punya rencana tersendiri yang lebih baik untuk kita.

Setelah tiba di penghujung kuliah dan masuk pada tahap penyusunan skripsi, saya pun memutuskan untuk berhenti menggunakan kontrasepsi setelah setahun lebih menunda untuk memiliki momongan. Pertimbangannya adalah karena kuliah yang dijadikan prioritas utama sudah hampir selesai sehingga saya bisa memulai prioritas selanjutnya yaitu punya anak.

Dua bulan pertama masih biasa saja. Berdasarkan artikel yang saya baca juga dua bulan pertama setelah berhenti menkonsumsi pil kontrasepsi itu merupakan masa penyesuaian hormon tubuh ke siklus awal. Masuk ke bulan ketiga, keinginan untuk bisa segera hamil mulai menguat. Terlebih lagi teman-teman yang baru menikah banyak yang sudah hamil. Teringat lagi komentar orang-orang terdekat ketika tahu saya masih menunda kehamilan.
"Kenapa KB? nanti susah dapat anak lho..."
"Ya ampun... baru nikah kenapa langsung KB? nanti tidak dikasih lagi baru tahu..."
dll, dsb... dan komen yang paling nyelekit dari salah seorang tante yg sudah puluhan tahun menikah dan tidak  belum dikarunai keturunan,
"Kamu jadi kayak saya nanti... kita sama, sayang... lihat saja nanti..." -sambil tersenyum entah bercanda atau serius.

Jawaban saya selalu sama, "Tuhan tahu niat saya kok..". Tuhan memang Maha Tahu bukan? saya menunda karena ingin menyiapkan diri lahir batin, agar tidak ada keluhan setelah menjalaninya kelak, benar-benar mengurusnya dengan penuh kasih tanpa harus berbagi perhatian dengan skripsi.

Mulailah serangkaian ritual mengalir seperti yang diajarkan Ustad Yusuf Mansur, membaca shalawat setiap kali melihat ibu-ibu hamil atau anak bayi, membaca surat Maryam dan berdoa memohon agar segera dikaruniai momongan. Saya masih ingat bulan itu bulan Desember tahun 2011. Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya karena memasuki akhir tahun anggaran. Skripsi pun tersendat-sendat padahal ujian dijadwalkan akhir Desember, namun kemudian diundur hingga awal bulan Februari sehingga masih ada waktu kurang lebih sebulan untuk menyelesaikannya. Saya minta cuti dari kantor supaya bisa lebih fokus pada skripsi. Lagipula proyek-proyek juga sudah selesai karena sudah akan tutup buku akhir tahun.

Dan ritual doa terus berjalan bersamaan dengan kesibukan skripsi. Di akhir bulan Januari saya 'telat'. Penuh harap membeli test pack dan hasilnya negatif. Kecewa? tentu saja. Saya jadi lebih 'menenggelamkan diri' lagi ke dalam skripsi. Yang tadinya saya berhati-hati agar tidak terlalu capek karena tidak ingin terjadi apa-apa bila ternyata saya hamil, begitu melihat hasil testpack yang negatif saya jadi tidak peduli lagi. Setelah selesai ujian pun 'tamu' saya tak kunjung padahal sudah dua minggu berlalu. Saya pun memutuskan untuk kembali mengetes, tepat seminggu setelah tes pertama yang hasilnya negatif. Kali ini mencoba tidak terlalu berharap agar tidak terlalu kecewa jika hasilnya negatif juga. Meski begitu tetap saja saya tidak bisa untuk tidak menangis dan memohon ketika berdoa. Allahlah segala tumpuan harapan, meski kita ingin menyangkal.
Dannnnn.... dua garis merah. Finally.... Alhamdulillah..

Tidak seperti pada umumnya perempuan hamil yang masa ngidamnya ditandai dengan muntah-muntah dan sensitif terhadap bau-bauan, saya malah tidak mengalami itu. Perubahan yang menyolok justru nafsu makan yang naik drastis, lapar terus (alamat bakal gendut deh ini..). Sampai saya ragu benar hamil atau tidak, tapi setelah dites lagi hasilnya tetap positif. Untuk lebih meyakinkan lagi harus lewat pemeriksaan dokter.

Saya tidak ingat pasti waktu kunjungan ke dokter, yang jelas ada 2x kunjungan di bulan Februari itu. Yang pertama hasil USGnya tidak begitu jelas, gelap di sebagian rahim jadi dokter belum bisa melihat apa-apa dan beliau menyarankan kembali lagi dalam beberapa minggu.

Yang kedua pada dokter yang berbeda, hasil USGnya juga tidak begitu memuaskan. Kantong rahimnya sudah terlihat namun janinnya belum. Diagnosa dokter janinnya belum berkembang, tidak seperti seharusnya. Beliau memberi dua macam obat dan saya harus kembali lagi dua minggu yang akan datang untuk melihat lagi perkembangan janinnya. Semangat saya tidak lagi seperti pada awal melihat testpack, langsung down. Belum lagi pikiran-pikiran kreatif yang muncul dan semakin menggelisahkan, 'bagaimana kalau begini... bagaimana kalau begitu... dan bla bla bla...'

Ingin tahu lebih jauh apa maksud dokter dengan janin belum berkembang, saya pun mulai menelusuri google. Dari berbagai artikel maupun blog yang saya temukan, istilah kedokteran untuk situasi yang saya alami adalah Blighted Ovum. Tanda-tandanya mirip kecuali flek, karena saya belum mengalami flek, mungkin nanti. Obat yang diberikan pada saya pun obat pencegah keguguran, yang justru umumnya dikonsumsi oleh ibu-ibu hamil yang pada akhirnya mengalami Blighted Ovum (BO). Maka makin hopelesslah saya.

Teman-teman dekat mulai menanyakan kabar kandungan saya, baik lewat sms, facebook ataupun twitter. Saya harus menjawab apa? sedang menunggu kapan keguguran? T_T. Saya mulai menghindar dari orang-orang, tidak ingin membicarakan soal kandungan saya. Saya tidak membalas sms2 yang menanyakan kabar, tidak lagi membuka facebook dan twitter karena tidak ingin melihat begitu banyak foto2 bayi yang diupload oleh teman-teman saya. Sungguh saya iri ya Allah, betapa bahagianya mereka. Saya sudah mulai masuk ke dalam fase stress berat. Suami akhirnya marah karena menurut dia saya terlalu cepat putus asa, pesimis dan tidak berprasangka baik pada Allah. Bukankah dokter belum bilang apa-apa? saya hanya menarik kesimpulan berdasarkan artikel-artikel yang saya baca.

Ok, fine. Saya memang mudah sekali berpikir yang tidak-tidak. Baiklah, berprasangka baik kepada Allah. Bukankah Allah adalah seperti prasangka hambaNYA kepadaNYA? semoga semuanya baik-baik saja. Dan saya pun mengucap doa di setiap saat, semoga Allah berkenan menitipkan janin ini di rahim saya, semoga ia tumbuh sehat dan sempurna. Allah menjawab doa saya beberapa hari kemudian. Harapan saya terbang seluruhnya ketika hari itu saya mengalami flek. Tanda awal keguguran  BO adalah keluarnya flek.

Tidak ingin terombang-ambing lebih lama, dengan menguatkan hati saya membaca surat Yasin. Apapun yang terjadi, terjadilah. Jika memang Allah berkenan menitipkan seorang anak pada kami sekarang maka kehamilan saya akan baik-baik saja. Dan jika sebaliknya, maka semoga saya diberi kekuatan dan kelapangan hati untuk mengikhlaskannya. Air mata pun tidak terbendung lagi, berjatuhan mengiringi setiap ayat. Ah, sekarang pun rasanya saya masih bisa merasakan sedihnya.

Tiga hari berturut-turut membaca surat Yasin, flek yang keluar semakin banyak, bahkan sudah berupa darah. Dan saya pun paham, ini bukan rejeki saya. Allah belum berkenan. Bukankah anak juga termasuk titipan Allah? dan Allah memutuskan untuk mengambil kembali titipannya yang belum sampai tiga bulan di rahim saya. Allah lah yang berkehendak atas segala sesuatu.
Saya tidak kembali lagi ke dokter. Untuk apa? dikuret? no way, saya lebih suka membiarkan 'sesuatu' itu keluar dengan sendirinya.

Seminggu pertama saya seperti sedang mengalami datang bulan. Kemudian pada dini hari tanggal 12 Maret 2012 akhirnya 'sesuatu' itu keluar juga dari rahim saya. Didahului dengan rasa sakit yang lumayan (mirip rasa sakit kontraksi ketika menunggu pembukaan lengkap persalinan), yang semenit muncul kemudian hilang lagi, ya pokoknya mirip sekali kontraksi. Dan ketika 'sesuatu' itu akhirnya keluar dari rahim saya, saya tidak lagi menangis... mungkin karena sebelum-sebelumnya sudah terlalu banyak menangis. Sebuah catatan di facebook, Minggu ke-10 mengawali pagi hari itu dan menguatkan saya mengikhlaskan 'dia'.

Seminggu setelahnya saya check up lagi ke dokter, dan beliau memastikan bahwa kandungan saya benar-benar bersih dan tidak perlu dikuret. Untuk kehamilan berikutnya disarankan saya untuk memakai kontrasepsi selama 3 bulan, agar kandungan saya fit kembali. 

After all, saya sudah bisa tersenyum dan tertawa lagi, sudah bisa menjawab pertanyaan orang tentang kehamilan saya tanpa merasa sedih lagi. Saya kuat karena suami saya jauh lebih kuat dan selalu menguatkan, menenangkan dan membesarkan hati saya. Sambil nyengir dia bilang, "Nanti kita bikin lagi yaa...". (-___-").

Saya tidak menyesali dan tidak menyalahkan apapun. Mungkin saya memang belum siap menjadi ibu. Mungkin kami memang belum siap menjadi orang tua. Masih ada banyak sekali yang perlu saya syukuri karena ada begitu banyak karunia yang telah dilimpahkanNYA kepada saya.
Allahlah yang Maha Tahu Segalanya, apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik untuk kita :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar